Berdiri di depan pintu rumahku, menantu
permpuanku, Mirna, mendekatkan kepalanya ke
arahku dan berbisik, “Kalau Ayah mau… aku nggak
menolak.” Dia memberiku sebuah kecupan ringan di
pipi, dan berbalik lalu berjalan menyusul suami dan
anaknya yang sudah lebih dulu menuju ke mobil.
Yoyok menempatkan bayinya pada dudukan bayi itu,
dan seperti biasanya, dia terlalu jauh untuk
mendengar apa yang dibisikkan istrinya tercintanya
terhadap Ayah kandungnya.
Mirna melenggang di jalan kecil depan rumah dengan
riangnya bagai seorang gadis remaja yang
menggoda. Yoyok tak mengetahui ini juga, ini semua
dilakukan istrinya hanya untukku…
Mungkin kalian mengira aku terlalu mengada-ada soal
ini, tapi kenyataannya apa yang Mirna lakukan ini tidak
hanya sekali ini saja. Dan sejak aku tak terlalu terkejut
lagi, aku merasa ada sesuatu yang hilang jika dia
tidak melakukannya saat berkunjung ke rumahku.
Aku merasa ada getaran pada penisku, dan sebagai
seorang lalaki biasa yang masih normal, pikiran
‘andaikan… yang wajar menurutku selalu hadir di
benakku.
Mirna adalah seorang wanita yang bertubuh mungil,
tapi meskipun begitu ukuran tubuhnya tersebut tak
mampu menutupi daya tarik seksualnya. Sosoknya
terlihat tepat dalam ukurannya sendiri. Dia
mempunyai rambut hitam pekat yang dipotong
sebahu, dia sering mengikatnya dengan bandana. Dia
memiliki energi dan keuletan yang sepengetahuanku
tak dimiliki orang lain. Sebuah keindahan nan elok
kalau ingin mendiskripsikannya. Dia selalu sibuk,
selalu terlihat seakan dikejar waktu tapi tetap selalu
terlihat manis. Dia masuk dalam kehidupan keluarga
kami sejak dua tahun lalu, tapi dengan cepat sudah
terlihat sebagai anggota keluarga kami sekian
lamanya.
Yoyok bertemu dengannya saat masih kuliah di tahun
pertama. Mirna baru saja lulus SMU, mendaftar di
kampus yang sama dan ikut kegiatan orientasi
mahasiswa baru. Kebetulan Yoyok yang bertugas
sebagai pengawas dalam kelompoknya Mirna. Seperti
yang sering mereka bilang, cinta pada pandangan
pertama.
Mereka menikah di usia yang terbilang muda, Yoyok
23 tahun dan Mirna 19 tahun. Setahun kemudian bayi
pertama mereka lahir. Aku ingat waktu itu kebahagian
terasa sangat menyelimuti keluarga kami. Suasana
saat itu semakin membuat kami dekat. Mirna
mempunyai selera humor yang sangat bagus, selalu
tersenyum riang, dan juga menyukai bola. Dia sering
terlihat bercanda dengan Yoyok, mereka benar-benar
pasangan serasi. Dia selalu memberi semangat pada
Yoyok yang memang memerlukan hal itu.
Yoyok dan Mirna sering berkunjung kemari, membawa
serta bayi meraka. Mereka telah mengontrak rumah
sendiri, meskipun tak terlalu besar. Aku pikir mereka
merasa kalau aku membutuhkan seorang teman,
karena aku seorang lelaki tua yang akan merasa
kesepian jika mereka tak sering berkunjung.
Disamping itu, aku memang sendirian di rumah tuaku
yang besar, dan aku yakin mereka suka bila berada
disini, dibandingkan rumah kontrakannya yang
sempit.
Ibunya Yoyok telah meninggal karena kanker sebelum
Mirna masuk dalam kehidupan kami. Sebenarnya,
tanpa mereka, aku benar-benar akan jadi orang tua
yang kesepian. Aku masih sangat merindukan isteriku,
dan bila aku terlalu meratapi itu, aku pikir, kesepian itu
akan memakanku. Tapi pekerjaanku di perkebunan
serta kunjungan mereka, telah menyibukkanku.
Terlalu sibuk untuk sekedar patah hati, dan terlalu
sibuk untuk mencari wanita untuk mengisi sisa
hidupku lagi. Aku tak terlalu memusingkan
kerinduanku pada sosok wanita. Tak terlalu.
Bayi mereka lahir, dan menjadi penerus keturunan
keluarga kami. Kami sangat menyayanginya. Dan
kehidupan terus berjalan, Yoyok melanjutkan
pendidikannya untuk gelar MBA, dan Mirna bekerja
sebagai Teller di sebuah Bank swasta.
Kunjungan mereka padaku tak berubah sedikitpun,
cuma bedanya sekarang mereka sering membawa
beberapa bingkisan juga. Tentu saja, diasamping itu
juga perlengkapan bayi, beberapa popok, mainan dan
makanan bayi.
Beberapa bulan lalu Mirna dan bayi mereka datang
saat Yoyok masih di kelasnya. Dia duduk disana
menggendong bayinya di lengannya. Dia sedang
berusaha untuk menidurkan bayinya. Aku tak tahu
caranya, tapi pemandangan itu entah bagaimana
telah menggelitik kehidupan seksualku.
“Ngomong-omong… kapan Ayah akan segera
menikah lagi?” dia bertanya dengan getaran pada
suaranya.
“Aku tak tahu. Aku kelihatannya belum terlalu
membutuhkan kehadiran seorang wanita dalam
hidupku. Lagipula, aku telah memiliki kalian yang
menemaniku.”
“Aku tidak bicara tentang teman. Aku sedang bicara
soal seks.” matanya mengedip kearahku saat dia
bicara.
“Apa?”
“Ayah tahu, seks.” dia hampir saja tertawa sekarang.
“Ketika seorang lelaki dan wanita sudah telanjang dan
memainkan bagiannya masin-masing?”
“Ya, aku tahu seks,” aku membela diri. “Lagipula
kamu pikir darimana suamimu berasal?”
“Yah, aku hanya khawatir kalau Ayah sudah
melupakannya. Maksudku, apa Ayah tak merindukan
hal itu?”
“Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sudah
terlalu tua untuk hal seperti itu.”
“Hei! Lelaki tak pernah bosan dengan hal itu.
Setidaknya begitulah dengan putramu.”
“Anakku jauh lebih muda dariku, dan dia mempunyai
seorang istri yang cantik.”
“Terima kasih, tapi aku masih tetap menganggap
Ayah membutuhkannya,” dia menekankan suaranya
pada kata ‘Ayah’.
“Terima kasih sudah ngobrol,” kataku, masih
terdengar sengit. Ada sedikit jeda pada perbincangan
itu, saat dia masih menekan kehidupan seksualku.
Aku pikir bukanlah urusannya untuk mencampuri hal
itu meskipun kadang aku membayangkannya juga.
Dia pandang bayinya, yang akhirnya tertidur, dan
memberinya sebuah senyuman rahasia, sepertinya
mereka berdua akan berbagi sebuah rahasia besar.
Masih memandangnya, tapi dia berbicara padaku,
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”
“Apa!!!?”
“Aku serius.” Mirna menatapku. “Kalau Ayah
menginginkan aku… Ayah adalah seorang lelaki yang
tampan. Ayah membutuhkan seks. Disamping itu, aku
bersedia, kan?”
Aku pikir dia sedang bercanda. Tapi wanita yang
menggoda ini tidak sedang main-main. Tapi tetap
saja tak mungkin aku melakukannya dengan istri dari
anak kandungku sendiri. “Terima kasih atas
tawarannya, tapi kupikir aku akan menolak
tawaranmu.” suaraku terdengar penuh dengan
keraguan saat mengucapkannya.
Mirna mencibirkan bibir bawahnya, aku tak bisa
menduga apa yang sedang dirasakannya. Dia tetap
terlihat menawan, dan aku merasa Yoyok sangat
beruntung.
Dia bicara dengan pelan. “Dengar, Yoyok tak akan
tahu. Maksudku, aku tak akan mengatakannya kalau
Ayah juga menjaga rahasia. Dan bukan berarti aku
menawarkan diriku pada setiap lelaki yang kutemui.
Aku bukan wanita seperti itu dan aku bisa mengatur
agar sering berkunjung kemari. Dan aku tahu Ayah
menganggapku cukup menarik kan, sebab aku sering
melihat Ayah memandangi pantatku.”
Aku tak mungkin menyangkalnya. Mirna mungkin tak
terlalu tinggi, tapi dia memiliki bongkahan pantat yang
indah diatas kedua kakinya. “Ya, kamu memang
memiliki pantat yang indah. Tapi itu bukan berarti
kalau aku ingin berselingkuh dengan menantuku
sendiri.”
Dia berhenti sejenak, tapi Mirna kelihatannya tak akan
menyerah begitu saja. “Yah, tapi jangan lupa. “Kalau
Ayah mau… aku nggak menolak.”
Dan itulah awal dari semua ini.
Seiring minggu yang berlalu, entah di sengaja atau
tidak, dia seakan selalu berusaha untuk menggodaku,
membuat puting sususnya menyentuh dadaku saat
dia menyerahkan bayinya padaku untuk ku gendong.
Atau dia masukkan jarinya di mulutnya saat Yoyok tak
melihat, dan menghisapnya dengan pandangan
penuh kenikmatan ke arahku. Suatu waktu dia duduk
di lantai dengan kaki menyilang dan sedang bermain
dengan bayinya, dia memandangku tepat di mata,
tersenyum, dan menyentuh pangkal paha di balik
celana jeansnya. Aku tak akan melupakan hal itu. Dan
dia entah bagaimana selalu menemukan cara untuk
berduaan denganku walaupun sesaat, dan dia
memberiku ciuman singkat yang penuh gairah, tepat
di bibir. Itu semua dilakukannya berulang-ulang.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik
di belakang Yoyok saat suaminya itu sedang
memasukkan DVD pada player.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik
saat mendekat untuk menyodorkan minuman padaku.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia
membisikkannya setiap kali dia berpamitan.
Dan sekarang, aku bukanlah terbuat dari batu, dan
aku tak akan bilang tingkah lakunya itu tidak
memberikan pengaruh terhadapku. Mirna sangat
manis dan mungil, dan meskipun setelah melahirkan
bayi pertamanya tak membuat tubuhnya berubah
seperti kebanyakan wanita. Dia tetap langsing, dan
manis, dan dia menawarkan dirinya untuk kumiliki.
Tapi aku tak akan memulai langkah pertama untuk
tidur dengan menantuku sendiri, tak perduli semudah
apapun itu.
Setidaknya itulah yang tetap kukatakan pada diriku
sendiri.
Beberapa minggu yang lalu kami semua berkumpul di
rumahku untuk melihat pertandingan bola. Aku
mengambil beberapa kaleng minuman dan sedang
berada di dapur untuk menyiapkan beberapa
makanan ringan saat Mirna muncul dari balik pintu itu.
“Hai!” sapanya, membuka pintu dan masuk ke dapur.
“Ayah sudah siap untuk pertandingan nanti?”
“Hampir. Aku sedang membuat makanan untuk
keluarga kecil kita, dan aku punya beberapa wortel
untuk cucuku. Aku pikir dia akan suka dan warnanya
sama dengan kesebelasan yang akan bertanding
nanti, kan?
Mirna tertawa dan berkata. “Aku rasa dia tak akan
perduli. Disamping itu bukankah ada hal lain yang
lebih baik yang bisa Ayah kerjakan untukku?”
“Jangan menggodaku. Aku seorang kakek dan aku
akan lakukan apa yang menurutku akan disukai oleh
cucuku.” aku memandangnya. Mirna berdiri di sana
memakai bandana merah kesukaannya diatas
rambutnya yang sebahu. Dia memakai kaos yang
sedikit ketat yang bahkan tak sampai ke pinggangnya,
dan pusarnya mengedip padaku dibalik kaosnya.
Kancing jeansnya membuatnya kelihatan seperti
anak-anak diera bunga tahun 60an, dan dia memakai
sandal dengan bagian bawah yang tebal yang
menjadikannya lebih tinggi sepuluh centi. Kuku
kakinya dicat merah senada dengan lipstiknya, dan itu
menjadi terlihat dengan sangat menarik dibalik
denimnya. Dia selalu suka mengenakan perhiasan,
dan dia memakainya pada leher, telinga, pergelangan
tangan dan bahkan di jari kakinya. Dia membuatku
berandai-andai jika saja aku masih remaja, jadi aku
dapat memacari gadis sepertinya. Mungkin suatu
waktu nanti aku harus pergi ke kampus dan mencari
gadis-gadis. Khayalanku terhenti saat menyadari
kalau Yoyok dan bayinya tidak mengikutinya masuk.
“Mana anggota keluargamu yang lainnya?” aku
bertanya ingin tahu.
“Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko
perkakas untuk membeli peralatan mesin cuci yang
rusak. Dia ingin membawa serta anaknya. ‘Perjalanan
ke toko perkakas yang pertama bersama Ayah’ kurasa
yang dikatakannya padaku.” dia tersenyum. “Apa
Ayah mempermasalahkan saat pertama kalinya
mengajak Yoyok ke toko perkakas?”
“Aku tak ingat,” aku berkata dengan garing.
Mirna mendekat padaku, dan menaruh tangannya
melingkari leherku. “Ini kesempatan Ayah. Kalau Ayah
mau… aku nggak menolak.”
Mirna memandangku tepat di mata dan mengangkat
tubuhnya dan menciumku lama dan liar. Aku ingin
mendorongnya, tapi aku tak tahu dimana aku harus
menaruh tanganku. Aku tak mau menyentuh pinggang
telanjang itu, dan jika aku menaruh tanganku di
dadanya aku pasti akan menyentuh puting susunya.
Saat aku masih terkejut dan bingung, aku temukan
diriku menikmati ciumannya. Ini sudah terlalu lama,
dan aku merasa telah lupa akan rasa lapar yang mulai
tumbuh dalam diriku.
Akhirnya aku menghentikan ciuman itu dan mundur
dan melepaskan tangannya dari leherku. “Kita tak
bisa melakukannya.” aku mencoba
menyampaikannya dengan lembut, tapi aku takut itu
kedengaran seperti rajukan.
“Ya kita bisa.” Mirna kembali menaruh lengannya di
leherku dan mendorong bibirku ke arahnya. Ada
gairah yang lebih lagi dalam ciuman kali ini, dan
akhirnya penerimaanku. Kali ini saat kami berhenti,
ada sedikit kekurangan udara diantara kami berdua,
dan aku semakin merasa sedikit bimbang.
Mirna memandangku dengan binar di matanya dan
sebuah senyuman di bibirnya. “Ayah menginginkanku.
Aku bisa merasakannya. Ayah tak mendapatkan
wanita setahun belakangan ini, dan Ayah tak
mempunyai tempat untuk melampiaskannya. Dan aku
menginginkan Ayah. Jadi tunggu apa lagi…”
Pada sisi ini aku tak mampu berkomentar. Aku
menginginkannya. Tapi aku tak dapat meniduri
menantuku, bisakah aku? Tapi aku menginginkan dia.
Aku merasa pertahananku melemah, dan saat Mirna
menciumku lagi, aku jadi sedikit terkejut saat
menyadari diriku membalas ciumannya dengan rakus.
“Mmmmm. Itu lebih baik,” katanya saat kami berhenti
untuk mengambil nafas. Mirna menarik tangannya
dari leherku dan mulai melepaskan kancing celanaku
saat menciumku kembali lalu dia mundur. Jadi dia
bisa melihat saat dia melepaskan kancing jeansku,
menurunkan resletingnya, dan merogoh ke dalam
untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut saat
terlihat jadi tampak lebih besar di genggaman
tangannya yang kecil. Setahun sudah tak disentuh
oleh wanita , dan bereaksi dengan cepat, menjadi
keras dan cairan pre-cumnya keluar saat dia
mengocoknya dengan lembut.
Mirna mundur dan duduk. Saat kepalanya turun, dia
menempatkan bibirnya di pangkal penisku yang
basah. “Aku rasa aku menyukai bentuknya,” bisiknya
sambil menatap mataku. Lalu kemudian dia
membuka mulutnya dan dengan perlahan
memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Ke dalam
dan lebih dalam lagi penisku masuk dalam mulutnya
yang lembut, hangat dan basah, dan aku merasa
berada di dalam vagina yang basah dan kenyal saat
lidahnya menari di penisku. Akhirnya aku merasa telah
berada sedalam yang ku mampu, bibirnya menyentuh
rambut kemaluanku dan kepala penisku berada entah
di mana jauh di tenggorokannya. Penisku tanpa terasa
mengejang, dan pinggangku bergerak berlawanan
arah dengannya, dan bersiap untuk menyetubuhi
wajahnya.
Tapi Mirna perlahan menjauhkan mulutnya dariku,
menimbulkan suara seperti sedang mengemut
permen. Saat dia bangkit untuk menciumku lagi, aku
mengarahkan tanganku diantara pahanya. Aku gosok
jeansnya dan dia menggeliat karenanya. “Mmmm, itu
pasti nikmat,” katanya. “Tapi biar aku membuatnya
jadi lebih mudah.”
Mirna melepaskan kancing celananya dan
menurunkan resletingnya, memperlihatkan celana
dalam katunnya yang bergambar beruang kecil.
Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari
tubuhnya. Kami melihat ke bawah pada area gelap
dibawah sana dimana kewanitaannya bersembunyi,
dan kemudian aku sentuh perutnya yang kencang dan
terus menurunkan celana dalamnya.
Mirna mengerang dalam kenikmatan saat tanganku
mencapai sasarannya dibalik celana dalamnya.
Vaginanya serasa selembut pantat bayi, dan aku
sadar kalau dia pasti telah mencukurnya sebelum
kemari. Terasa basah dan licin oleh cairan
kewanitaannya dan membuatku kagum karena itu tak
menimbulkan bekas basah di luar jeansnya. Saat
tanganku menyelinap dibalik bibir vaginanya dan
menyentuh klitorisnya yang mengeras, dia
memejamkan matanya dan menekan berlawanan
arah dengan jariku.
Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan
mendorong kami untuk sebuah ciuman intensif
berikutnya sedangkan tangannya yang lain mengocok
penisku dan tanganku terus bergerak dalam lubang
basahnya. Saat kami berhenti untuk bernafas, Mirna
mundur dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan,
“Yoyok datang.”
Aku segera melepasnya dan menuju jendela. Ya,
mobil Yoyok terlihat di jalan sedang menuju kemari.
Mirna pasti melihatnya dari balik bahuku saat kami
saling mencumbui leher. Tiba-tiba perasaan bersalah
datang menerkam karena hampir saja ketahuan. Aku
tak percaya apa yang hampir saja kami lakukan.
Dengan tergesa-gesa aku kenakan kemabali
celanaku, tapi Mirna menghentikanku dan menangkap
tanganku dan melanjutkan kocokannya.
“Hei, tidak boleh. Tak semudah itu Ayah boleh
mengakhirinya. Aku telah menunggu terlalu lama
untuk ini.”
“Tapi Yoyok hampir datang! Dia akan melihat kita!”
Mirna mengeluarkan penisku dan berjalan ke arah
meja dapur. “Ini perjanjiannya,” katanya. “Aku tak
akan mengadu pada Yoyok tentang apa yang baru
saja kita lakukan kalau Ayah dapat dapat
mengeluarkan seluruh sperma Ayah dalam vaginaku
sebelum dia sampai kemari.” Sambil berkata begitu,
dia menurunkan celananya hingga lutut dan
membungkuk di meja itu.
“Dia segera datang!” hampir saja aku teriak.
“Tidak.” Mirna membentangkan kakinya sejauh
celananya memungkinkan untuk itu dan dia
memandangku lewat bahunya. “Dia harus
menggendong bayi dan mengeluarkan semua
barangnya. Biasanya dia memerlukan beberapa
menit. Sekarang kemarilah dan setubuhi aku.”
Mirna telah telanjang dari pinggang hingga kaki, dan
dia memohon padaku agar segera memasukkan
diriku dalam tubuhnya. Aku menatap dua lubang yang
mengundang itu. Pantatnya begitu kencang dan aku
tak terusik saat melihat lubang anusnya yang berkerut
kemerahan, dan di bawahnya, bibir vaginanya yang
merah, terlihat mengkilap basah. Kakinya tak
sejenjang model, tapi lebih kecil dan terasa pas, dan
aku membayangkan bercinta dengannya beberapa
jam.
Tangannya bergerak kebelakang diantara pahanya
dan menempatkan tangannya pada vaginanya.
Dengan dua jarinya dilebarkannya bibir vaginanya
hingga terbuka, dan aku dapat melihat lubang merah
mudanya mengundang penisku agar segera masuk.
“Ayo,” katanya. “Ambil aku.”
Aku tak tahu apa dia sedang bercanda saat
mengatakannya. Yoyok atau bukan, rangsangan ini
lebih dari cukup untuk mereguk birahinya. Aku
melangkah ke belakang menantuku dan
menempatkan penisku di kewanitaannya. Saat aku
mendorong penisku melewati lubang surganya yang
sempit, aku dapat merasakan jari Mirna menahan bibir
madunya agar tetap terbuka, dan dia melenguh saat
aku memegang pinggangnya dan memasukkan diriku
padanya.
Mirna telah sangat basah hingga aku dengan mudah
melewati vagina mudanya yang sempit. Aku mulai
mengayunkan barangku di dalamnya, sebagian
didorong oleh nafsu akan tubuh menggairahkannya
dan sebagian oleh rasa takut jika Yoyok memergoki
kami. Mirna mengerang, dan aku dapat merasakan
jarinya menggosok kelentit dan bibir vaginanya
sendiri. Nafasnya mulai tersengal, dan setelah
beberapa goyangan dariku, dia segera orgasme.
Suara rengekan pelan keluar dari bibirnya saat dia
mencengkeram pinggiran meja dengan kuat, dan
letupan orgasmenya menggoncang kami berdua saat
aku menghentaknya.
Itu cukup untuk menghantarku. Aku tak berhubungan
dengan wanita dalam setahun ini, dan aku belum
pernah mendapatkan yang sepanas Mirna. Aku
menahan nafas dan mendorong seluruh kelaki-
lakianku ke dalam dirinya. Kami mematung, dan
kemudian spermaku menyemprot dengan hebat jauh
di dalam surganya. Serasa aku telah mengguyurnya
dengan sperma yang panas dan berlebih. Dia
mengerang dalam nikmat, menggetarkan pantatnya
di seputar penisku saat aku mengosongkan
persediaan benihku. Dia melemah seiring dengan
habisnya spermaku, dan kami akhirnya berhenti
bergerak, kecuali untuk mengambil nafas.
Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat
melepaskan diri, aku keluarkan diriku dari tubuhnya
dengan bunyi plop yang basah, lalu mundur menjauh
dan mengenakan celanaku. Mirna masih tetap
berbaring tertelungkup di atas meja merasakan
kehangatan campuran cairan birahi kami, pantat
telanjangnya masih tetap memanggilku. Aku lihat
spermaku dan cairannya mulai meleleh keluar dari
bibir surganya. Aku palingkan muka dan melihat Yoyok
hampir sampai di pintu belakang, bayi di tangan yang
satu dan belanjaan di tangan lainnya.
Aku berbalik dan memohon pada Mirna. ” Ayolah!”
kataku. “Kamu telah dapatkan keinginanmu. Dia
hampir sampai kemari.”
Mirna bangkit, tatapan matanya masih kelihatan
linglung. Dia bergerak ke depanku, menjadikanku
sebagai penghalang dari pandangan suaminya saat
dia dengan tergesa-gesa memakai celananya.
“Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?”
tanya Yoyok sambil membuka pintu.
“Ya,” aku menjawab dari balik punggungku saat aku
diam untuk menghalangi Mirna yang menaikkan
resletingnya. Setelah dia selesai, aku segera berbalik
untuk menyambut Yoyok.
“Ini,” katanya, menyodorkan bayinya padaku dan
meletakkan belanjaannya diatas meja dapur.
“Urus ini, aku akan mengambil popok bayi.” Yoyok
melangkah ke pintu yang masih terbuka, dan aku
menghampiri Mirna. Dia masih terlihat sedikit linglung.
“Hampir saja,” kataku.
“Sini, biar aku yang menggendongnya.”
Aku berikan bayinya. Mirna memberiku pemandangan
seraut wajah dari seorang wanita yang puas sehabis
bersetubuh, dan memberiku ciuman hangat yang
basah.
“Masih ada satu hal lagi yang harus
kuketahui,”katanya.
“Apa itu?”
“Kalau aku ingin, bisakah aku mendapatkannya
besok?”
Dan dia melenggang begitu saja tanpa menunggu
jawabanku yang hanya melongo bengong. Dia yakin
kalau akan bersedia…
- Tamat -
Next
« Prev Post
« Prev Post
Previous
Next Post »
Next Post »
0 Komentar untuk "Mirna Menantu Seksi ~ Cerita Dewasa 17Th"
Komentar Lah Yang Bijak